close

Rangkuman PAI Kelas 7 Bab 1 Kurikulum Merdeka

Berikut ini adalah Rangkuman Materi PAI Kelas 7 tentang Bab 1 Al-Quran dan Sunnah Sebagai Pedoman Hidup. Kami banyak membagikan rangkuman materi mata pelajaran dari kelas 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10 11, dan 12. Kami juga akan terus memperbaharui ringkasan untuk Kurikulum Merdeka dan Kurikulum 2013. Silakan lihat Rangkuman Materi PAI Kelas 7 Lengkap, untuk melihat semua materi yang telah kami rangkum.

Rangkuman Bab 1 Al-Quran dan Sunnah Sebagai Pedoman Hidup

Dapatkan update rangkuman materi sekolah gratis dari Kampusimpian.com. Dengan bergabung di Grup Telegram “Rangkuman Materi Sekolah”, caranya klik link https://t.me/rangkumandansoal

Bertafakur

Tafakur dalam konteks Islam adalah proses merenung yang dianjurkan, sering diacu dalam Al Quran. Tetapi, apa esensi sebenarnya dari tafakur? Tafakur memiliki makna mempertimbangkan, merenungkan, dan menghubungkan diri dengan Allah melalui segala penciptaan-Nya yang tersebar di langit dan bumi. Ini juga mencakup introspeksi dalam diri manusia itu sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam buku “Spiritual Management” karya Sanerya Hendrawan.

Menurut Quraish Shihab dalam bukunya “Tadabbur Quran Tafakur Alam,” tafakur dapat dilihat dari akar kata “fikr” yang berasal dari “fakr” dalam bentuk kata “faraka,” yang mengindikasikan tindakan menggali dengan tujuan munculnya sesuatu, mengolah hingga hancur, membersihkan (pakaian) hingga bersih.

Memaknai Q.S an-Nisa ayat 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)

Surah An-Nisa ayat 59 menguraikan hierarki penetapan hukum yang harus diikuti oleh umat Muslim:

  1. Kewajiban mengamalkan isi Al Quran: Umat Muslim diharuskan menjalankan hukum-hukum yang telah diatur oleh Allah dalam Al Quran, bahkan jika hal tersebut sulit atau tidak sesuai dengan keinginan pribadi. Pemahaman bahwa perintah Allah mengandung kebaikan dan larangan-Nya mengandung bahaya.
  2. Ajaran Rasulullah sebagai amanat Allah: Ajaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW harus ditaati, karena ia adalah utusan Allah yang menjelaskan isi Al Quran kepada manusia.
  3. Ketetapan ulil amri: Umat Muslim harus mematuhi ketetapan yang telah disepakati oleh pihak berwenang di dalam masyarakat (ulil amri). Namun, ini hanya berlaku jika keputusan tersebut tidak bertentangan dengan Al Quran dan hadis.
  4. Penyelesaian perbedaan pendapat: Jika terjadi perbedaan pendapat dan kesepakatan tidak tercapai, solusinya adalah merujuk kembali kepada Al Quran dan hadis. Jika masih tidak ada titik temu, disarankan untuk menyesuaikan dengan hal-hal yang memiliki kesamaan dengan Al Quran dan sunah Rasulullah SAW.

Memaknai Q.S an-Nahl ayat 64

وَمَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتٰبَ اِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِى اخْتَلَفُوْا فِيْهِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

Bacaan Latin: Wa mā anzalnā ‘alaikal-kitāba illā litubayyina lahumullażikhtalafụ fīhi wa hudaw wa raḥmatal liqaumiy yu`minụn

Artinya: “Kami tidak menurunkan kitab (Al-Qur’an) ini kepadamu (Nabi Muhammad), kecuali agar engkau menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.”

Surah An-Nahl ayat 64 dari Al-Qur’an menjelaskan bahwa Al-Qur’an berfungsi sebagai pemisah antara yang benar dan yang salah. Ini juga dijelaskan dalam Tafsir Ibnu Katsir, di mana disebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan untuk memungkinkan Nabi Muhammad SAW menjelaskan perselisihan di antara manusia. Al-Qur’an bertindak sebagai pemisah dalam setiap sengketa manusia.

Pendapat serupa ditemukan dalam Tafsir Tahlili, yang mengindikasikan bahwa Al-Qur’an memiliki tujuan membantu Nabi Muhammad SAW dalam menjelaskan keraguan atau ketidakpercayaan umat. Melalui Al-Qur’an, manusia dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, serta menilai mana yang hak dan mana yang batil.

Surah An-Nahl ayat 64 juga menekankan bahwa tujuan turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW adalah untuk menjadi pedoman bagi umatnya. Ini memandu umat menuju kebenaran dalam kehidupan dunia, dengan akhir tujuan mencapai kebahagiaan di akhirat.

Hukum Bacaan Alif Lam Syamsiah dan Alif Lam Qamariyah

Alif Lam Qamariyah

Dalam buku “Junior Mudah Belajar Tajwid” oleh Ainun Lathifah, alif lam qamariyah adalah alif lam sukun yang bertemu dengan salah satu huruf qomariah dalam tajwid. Ini mengakibatkan huruf lam (ال) dibaca secara jelas. Istilah lain untuk alif lam qamariyah adalah izhar qamariyah. Terdapat 14 huruf qomariah dalam hukum tajwid, yaitu ba (ب), jim (ج), kha (ح), kho (خ), ‘ain (ع), ghoin (غ), fa (ف), qof (ق), kaf (ك), mim (م), wawu (و), hamzah (ء), ha (ه), dan ya (ي).

Alif Lam Syamsiah

Alif lam syamsiah memiliki peraturan bacaan yang berbeda dari hukum tajwid alif lam qomariah terkait pelafalan huruf lam (ال).

Mengacu pada buku Pendidikan Agama Islam untuk Siswa SMP kelas VII oleh Rachmat, dkk., alif lam syamsiyah merujuk pada alif lam sukun yang bertemu dengan salah satu huruf syamsiyah dan dibacanya tidak jelas atau melebur dengan huruf setelahnya (idgam).

Hukum bacaan alif lam syamsiah diterapkan ketika bertemu dengan 14 huruf hijaiyah, yaitu ta (ت), tsa (ث), dal (د), dzal (ذ), ra (ر), za (ز), sin (س), syin (ش), shod (ص), dhod (ض), tho (ط), dhlo (ظ), lam (ل), dan nun (ن).

Ciri-ciri Alif Lam Qomariah

Menurut buku Pendidikan Agama Islam untuk Siswa SMP kelas VII oleh Rachmat, dkk., berikut adalah ciri-ciri alif lam qomariah yang ditemukan dalam ayat Al-Quran:

  1. Huruf alif lam dalam ayat tidak memiliki harakat (sukun).
  2. Tidak ada harakat tasydid pada huruf setelah “al” tersebut.
  3. Huruf alif lam akan dibaca dengan jelas (izhar).

Ciri-ciri Alif Lam Syamsiah

Dalam buku yang sama, berikut adalah ciri-ciri alif lam syamsiah yang perlu diketahui:

  1. Huruf alif lam dalam ayat tidak memiliki harakat (sukun).
  2. Terdapat tanda tasydid di atas huruf yang terletak setelah alif lam mati.
  3. Cara membaca huruf alif lam tersebut adalah dengan meleburkannya dengan huruf setelahnya (idgam).

Contoh Alif Lam Qomariah

Dalam buku Pendidikan Agama Islam untuk SMP Kelas VII oleh Rachmat, berikut adalah contoh-contoh alif lam qomariah yang terdapat dalam Al-Qur’an:

  1. QS. Al-Baqarah: 2
    ذٰلِكَ الْكِتٰبُ
    Cara membacanya: żālikal-kitābu
    Penjelasan: Huruf alif lam qomariah terjadi karena alif lam bertemu huruf kaf (ك).
  2. QS. Al-Baqarah: 5
    هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
    Cara membacanya: humul-mufliḥụn
    Penjelasan: Huruf alif lam qomariah terjadi karena alif lam bertemu huruf mim (م).
  3. QS. Al-Fatihah: 2
    اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
    Cara membacanya: Alhamdu lillaahi Rabbil ‘aalamiin
    Penjelasan: Huruf alif lam qomariah terjadi karena alif lam bertemu huruf ha (ح).
  4. QS. Al-Fatihah: 6
    اِھْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَـقِيْمَ
    Cara membacanya: Ihdinas-Siraatal-Mustaqiim
    Penjelasan: Huruf alif lam qomariah terjadi karena alif lam bertemu huruf mim (م).

Contoh Alif Lam Syamsiah

Dalam buku yang sama, berikut adalah contoh-contoh alif lam syamsiah yang terdapat dalam Al-Qur’an:

  1. QS. Al-Qadr: 4
    وَالرُّوْحُ
    Cara membacanya: warruukhu
    Penjelasan: Huruf alif lam syamsiah terjadi karena alif lam bertemu huruf ro (ر).
  2. QS. Al-‘Alaq: 8
    الرُّجْعٰٓى
    Cara membacanya: arruj’aa
    Penjelasan: Huruf alif lam syamsiah terjadi karena alif lam bertemu huruf ro (ر).
  3. QS. Quraisy: 2
    الشِّتَٓاءِ
    Cara membacanya: Asyyitaa
    Penjelasan: Huruf alif lam syamsiah terjadi karena alif lam bertemu huruf syin (ش).

Dalam agama Islam, hadits merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Quran. Menurut Al-Ghouri dalam Mu’jam al-Mushthalahat al-Haditsah, hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW dari perkataan, perbuatan, taqrir (keputusan), dan sifat.

Keabsahan hadits sebagai sumber hukum Islam dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Quran. Dalam surat Al-Hasyr ayat 7, Allah berfirman: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah…” (QS. Al-Hasyr: 7). Ayat ini menekankan pentingnya mengikuti ajaran Rasulullah SAW dan menjadikannya pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Perintah untuk mengikuti Rasul juga ditemukan dalam surat An-Nisa ayat 59 yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya)…”

Fungsi Hadits Terhadap Al-Quran

Berdasarkan surat An-Nisa ayat 59, Al-Quran diakui sebagai sumber hukum utama dalam Islam. Namun, pemahaman manusia tidak selalu sempurna, sehingga diperlukan penjelasan agar pesan dalam Al-Quran dapat dipahami secara benar.

Di sinilah peran hadits menjadi penting. Menurut jurnal “Fungsi Hadits Terhadap Al-Quran” karya Hamdani Khairul Fikri, hadits memiliki fungsi-fungsi berikut:

  1. Bayan Taqrir (Memperjelas Isi Al-Quran): Hadits digunakan untuk memperkuat dan mengokohkan makna Al-Quran agar tidak diragukan lagi. Contoh, surat Al-Maidah ayat 6 menyuruh berwudhu sebelum sholat. Nabi Muhammad SAW menegaskan dengan hadits bahwa sholat tidak diterima tanpa berwudhu.
  2. Bayan Tafsir (Menafsirkan Isi Al-Quran): Hadits menjelaskan ayat-ayat yang maknanya samar, merinci ayat dengan makna global, dan mengkhususkan ayat yang maknanya umum. Contoh, ayat Al-Quran memerintahkan sholat, tapi tanpa rincian. Nabi Muhammad SAW mempraktikkan sholat secara detail dan mengarahkan umat untuk menirunya.
  3. Takhshish Al-’am (Mengkhususkan yang bermakna umum): Hadits mengkhususkan atau mengecualikan ayat yang bersifat umum. Contohnya, Al-Quran melarang darah dan bangkai, tetapi Nabi Muhammad SAW mengkhususkan beberapa jenis.
  4. Bayan Tabdila: Hadits mengubah hukum yang telah berlaku. Contohnya, zakat pertanian. Al-Quran menyebutkan penghasilan yang harus dizakatkan, tapi tidak menjelaskan batasan nisabnya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa zakat pertanian berlaku jika hasilnya mencapai lima wasak.

Dengan demikian, hadits memiliki peran krusial dalam menjelaskan, memperkuat, dan mengkhususkan ajaran-ajaran yang terkandung dalam Al-Quran, serta memberikan panduan bagi umat dalam menjalankan ajaran agama.

Perilaku semangat untuk mendalami Al-Qur’an dan Hadis

Orang yang berpedoman pada pokok-pokok ajaran syariat akan berperilaku:

  1. Meyakini Akidah: Mereka meyakini pokok-pokok akidah Islam yang melibatkan iman kepada Allah SWT, malaikat-malaikat, kitab-kitab suci, rasul-rasul, hari akhir, serta qada dan qadar.
  2. Berbudi Pekerti Luhur: Mereka memiliki akhlak yang mulia karena Al-Quran memberikan panduan tentang perilaku etis.
  3. Melaksanakan Ibadah: Mereka menjalankan ibadah kepada Allah, seperti salat, puasa, zakat, dan haji.
  4. Bergaul dengan Orang Soleh: Mereka menjalin hubungan dengan orang-orang yang berakhlak baik.
  5. Membaca dan Memahami Al-Quran: Mereka membaca dan memahami Al-Quran, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
  6. Menghafalkan Ayat-Ayat Al-Quran: Mereka berusaha menghafalkan ayat-ayat Al-Quran karena hafalan tersebut dapat menjadi syafaat di hari kiamat.
  7. Menyampaikan Al-Quran kepada Orang Lain: Mereka berbagi ayat-ayat Al-Quran kepada orang lain untuk memberikan manfaat dan petunjuk.

Perilaku cinta terhadap Al-Quran dan hadis dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

  1. Berperilaku Sesuai: Manusia akan mengikuti panduan Al-Quran dan hadis dalam perilaku, perbuatan, dan ucapan mereka.
  2. Mempelajari Dari Sumber Sahih: Mereka belajar Al-Quran dari ulama terpercaya untuk memperoleh pemahaman yang benar.
  3. Menjaga Kesucian: Mereka menjaga kesucian Al-Quran dan hadis, seperti tidak membacanya di tempat yang kotor.
  4. Membela Al-Quran dan Hadis: Mereka mempertahankan Al-Quran dan hadis dari orang-orang yang meragukannya.
  5. Tidak Menafsirkan Dengan Nafsu: Mereka tidak menafsirkan Al-Quran dan hadis berdasarkan hawa nafsu pribadi.
  6. Menuntut Ilmu: Mereka aktif menuntut ilmu, karena ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim.
  7. Berbakti kepada Orangtua: Anak berbakti kepada orangtua karena hal ini juga berarti berbakti kepada Allah dan Rasulullah.
  8. Membawa Perubahan Positif: Anggota masyarakat berupaya menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif, terutama dalam hal akhlak.

Dengan menjalankan perilaku-perilaku ini, orang yang mencintai Al-Quran dan hadis dapat mengaplikasikan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi teladan bagi orang lain.

Download PDF

Rangkuman PAI Kelas 7 Bab 1 Al-Quran dan Sunnah Sebagai Pedoman Hidup.pdf
Kampusimpian.com
Jika tidak terdownload otomatis silahkan klik Download Ulang. Dan jika link rusak silahkan lapor melalui halaman Contact Us.

Rangkuman Materi Lain

Back to top button

Pemblokir Iklan Terdeteksi

Silakan untuk Menonaktifkan Adblocker ya, agar bisa mengakses semua layanan ini secara gratis!