Kritik Sosial (Teks Eksposisi/Monolog) | Bahasa Indonesia Kelas 10
Hai! Pernah nggak sih kamu ngeliat masalah sosial di sekitar kamu terus pengen banget ngomong atau nulis tentang itu? Nah, kalau kamu mau menyampaikan kritik terhadap kondisi sosial masyarakat secara logis dan terstruktur, kamu bisa pakai Teks Eksposisi. Kalau kamu mau lebih ekspresif dan personal, bisa pakai Monolog. Di kelas 10 ini, kita bakal belajar kedua cara menyampaikan kritik sosial dengan efektif!
Kritik sosial adalah bentuk komunikasi yang berisi tanggapan, penilaian, atau evaluasi terhadap berbagai fenomena atau masalah yang terjadi di masyarakat. Kritik ini bertujuan untuk menyadarkan masyarakat tentang masalah yang ada dan mendorong perubahan ke arah yang lebih baik.
Mengapa Kritik Sosial Penting?
Kritik sosial berfungsi sebagai kontrol sosial yang membantu masyarakat untuk mengevaluasi diri, memperbaiki kesalahan, dan menciptakan kehidupan yang lebih adil. Melalui kritik sosial, kita bisa menyuarakan aspirasi dan mengawasi jalannya kehidupan bermasyarakat.
Bentuk kritik sosial dalam kehidupan sehari-hari bisa kamu temukan di mana saja:
- Media massa: Artikel opini, editorial surat kabar, berita investigasi
- Karya sastra: Novel, cerpen, puisi, drama
- Seni pertunjukan: Stand-up comedy, teater, monolog
- Media sosial: Thread Twitter, caption Instagram, konten YouTube
- Karya ilmiah: Esai, artikel jurnal, makalah
Teks Eksposisi adalah teks yang berisi informasi dan pengetahuan yang disampaikan secara singkat, padat, dan akurat. Teks ini bertujuan untuk menjelaskan, memaparkan, atau menguraikan suatu permasalahan dengan disertai argumen yang logis.
Ciri-Ciri Teks Eksposisi:
- Menyampaikan informasi atau pengetahuan secara lugas
- Gaya bahasanya informatif dan persuasif
- Penyampaian dilakukan dengan objektif dan tidak memihak
- Fakta digunakan sebagai alat untuk mengonkretkan argumen
- Menggunakan bahasa baku dan kata-kata yang formal
Struktur Teks Eksposisi:
1Tesis (Pembukaan)
Bagian yang berisi pernyataan pendapat atau sudut pandang penulis terhadap permasalahan yang dibahas. Di bagian ini, penulis memperkenalkan isu atau topik yang akan dikritisi.
Fungsinya: Memberikan gambaran umum dan posisi penulis terhadap isu sosial yang diangkat.
2Argumentasi
Bagian yang berisi alasan, bukti, dan fakta yang mendukung tesis. Semakin kuat argumentasi yang disampaikan, semakin meyakinkan teks eksposisi tersebut.
Fungsinya: Memperkuat pendapat dengan data, contoh kasus, atau hasil penelitian yang relevan.
3Penegasan Ulang (Kesimpulan)
Bagian yang berisi penegasan kembali terhadap pendapat yang telah didukung oleh argumen. Bisa juga berisi saran atau rekomendasi.
Fungsinya: Menyimpulkan dan menegaskan kembali posisi penulis serta memberikan solusi atau harapan.
1Menggunakan Pronomina
Kata ganti (pronomina) digunakan untuk menunjuk sesuatu atau seseorang. Dalam teks eksposisi kritik sosial, sering menggunakan pronomina seperti “kita”, “mereka”, “ini”, “itu”.
Contoh: “Kita sebagai masyarakat harus peduli terhadap masalah ini.”
2Menggunakan Konjungsi (Kata Hubung)
Kata hubung yang menghubungkan antar kalimat atau paragraf. Yang sering digunakan: oleh karena itu, dengan demikian, namun, akan tetapi, sebab, sehingga.
Contoh: “Tingkat kemacetan semakin parah. Oleh karena itu, diperlukan kebijakan transportasi yang lebih baik.”
3Menggunakan Kata Leksikal
Kata yang merujuk pada makna tertentu seperti nomina (kata benda), verba (kata kerja), adjektiva (kata sifat), dan adverbia (kata keterangan).
Contoh: “Pemerintah (nomina) harus segera (adverbia) mengatasi (verba) masalah korupsi (nomina) yang merugikan (adjektiva).”
4Menggunakan Kata Modalitas
Kata yang menyatakan sikap penulis terhadap hal yang dibicarakan: seharusnya, sebaiknya, mungkin, harus, perlu.
Contoh: “Pemerintah seharusnya lebih memperhatikan kesejahteraan rakyat.”
Sistem Pendidikan yang Mengabaikan Karakter
[TESIS]
Pendidikan di Indonesia saat ini terlalu berorientasi pada nilai akademik dan mengabaikan pembentukan karakter siswa. Sistem evaluasi yang hanya berfokus pada angka membuat siswa tertekan dan kehilangan esensi belajar yang sesungguhnya. Padahal, tujuan pendidikan bukan hanya mencetak anak yang pintar secara kognitif, tetapi juga memiliki karakter yang baik dan keterampilan hidup yang memadai.
[ARGUMENTASI 1]
Pertama, sistem ujian nasional dan ujian sekolah yang masih dominan membuat siswa hanya belajar untuk mengejar nilai tinggi, bukan untuk memahami materi secara mendalam. Hal ini menciptakan budaya menghafal yang tidak berkelanjutan. Menurut survei PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2022, Indonesia masih berada di peringkat bawah dalam kemampuan literasi dan numerasi, meskipun siswa menghabiskan banyak waktu untuk belajar. Ini membuktikan bahwa metode pembelajaran yang ada belum efektif.
[ARGUMENTASI 2]
Kedua, kurikulum yang padat dengan berbagai mata pelajaran membuat siswa kewalahan dan stres. Mereka tidak memiliki waktu untuk mengeksplorasi minat dan bakat mereka. Banyak siswa yang mengalami tekanan psikologis akibat tuntutan akademik yang terlalu tinggi. Data dari KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia) menunjukkan bahwa kasus stres dan depresi pada siswa meningkat setiap tahunnya, salah satu penyebabnya adalah beban akademik yang berlebihan.
[ARGUMENTASI 3]
Ketiga, pendidikan karakter yang seharusnya menjadi prioritas sering kali hanya menjadi slogan tanpa implementasi nyata. Kita sering mendengar berita tentang tawuran pelajar, bullying, dan perilaku negatif lainnya. Ini menunjukkan bahwa sekolah gagal dalam mendidik karakter siswa. Pendidikan seharusnya tidak hanya mengajarkan rumus matematika atau teori fisika, tetapi juga nilai-nilai kejujuran, empati, tanggung jawab, dan toleransi.
[PENEGASAN ULANG]
Oleh karena itu, sudah saatnya sistem pendidikan Indonesia melakukan reformasi menyeluruh. Pemerintah dan pemangku kepentingan pendidikan harus mengubah orientasi dari sekadar mengejar nilai akademik menjadi pendidikan holistik yang mengembangkan kognitif, afektif, dan psikomotorik secara seimbang. Pendidikan karakter harus diintegrasikan dalam setiap aspek pembelajaran, bukan hanya sebagai mata pelajaran tambahan. Dengan demikian, kita bisa mencetak generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan siap menghadapi tantangan kehidupan.
Monolog adalah pembicaraan yang dilakukan oleh satu orang saja. Dalam konteks sastra dan seni pertunjukan, monolog merupakan naskah drama atau lakon yang diperankan oleh satu orang tokoh. Monolog sering digunakan untuk menyampaikan kritik sosial dengan cara yang lebih emosional dan ekspresif.
Karakteristik Monolog:
- Disampaikan oleh satu orang (tokoh tunggal)
- Mengandung ekspresi perasaan, pikiran, atau pengalaman tokoh
- Bisa bersifat introspektif (berbicara kepada diri sendiri) atau kepada audiens
- Gaya bahasa lebih bebas, bisa formal atau informal tergantung karakter tokoh
- Sering menggunakan teknik retorika untuk memperkuat pesan
Perbedaan Monolog dan Teks Eksposisi:
Teks Eksposisi:
- Bersifat objektif dan informatif
- Menggunakan argumen logis dan faktual
- Struktur yang ketat (tesis, argumentasi, penegasan)
- Bahasa formal dan baku
Monolog:
- Bersifat subjektif dan ekspresif
- Menggunakan emosi dan pengalaman personal
- Struktur lebih fleksibel
- Bahasa bisa formal maupun informal, tergantung karakter
1Tokoh
Karakter yang membawakan monolog. Tokoh ini memiliki latar belakang, kepribadian, dan sudut pandang tertentu yang mempengaruhi cara penyampaian kritik.
2Tema
Isu atau masalah sosial yang menjadi fokus kritik. Tema bisa tentang kemiskinan, korupsi, ketimpangan, pendidikan, atau berbagai isu sosial lainnya.
3Konflik
Permasalahan atau pertentangan yang diangkat dalam monolog. Konflik ini bisa internal (dalam diri tokoh) atau eksternal (tokoh versus masyarakat/sistem).
4Setting/Latar
Konteks situasi di mana monolog disampaikan. Bisa berupa waktu, tempat, dan suasana tertentu.
5Gaya Bahasa
Cara tokoh menyampaikan pemikirannya. Bisa menggunakan bahasa puitis, satire, sarkasme, atau lugas, tergantung karakter dan tujuan.
Tawanan Layar Kaca
(Seorang pemuda duduk di kursi, menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong)
Kamu tahu nggak sih… setiap hari aku bangun, hal pertama yang kulakukan adalah cek ponsel. Notifikasi. Like. Comment. Share. Seolah-olah hidupku akan berantakan kalau aku nggak tahu siapa yang like foto sarapanku tadi pagi.
(Tertawa miris)
Lucu ya? Kita hidup di era yang katanya paling terkoneksi dalam sejarah manusia. Tapi kenapa kita merasa semakin kesepian? Aku punya 2.473 teman di Facebook, 1.832 followers di Instagram, tapi aku nggak punya satu pun orang yang bisa aku telepon jam 3 pagi waktu aku butuh teman ngobrol.
Media sosial… mereka bilang ini alat untuk mendekatkan yang jauh. Tapi kenyataannya? Menjauhkan yang dekat. Aku lebih tahu kehidupan orang asing di Amerika sana daripada tetanggaku sendiri. Aku lebih peduli dengan drama artis yang nggak aku kenal daripada masalah adikku sendiri.
(Berdiri, mulai gelisah)
Dan yang paling parah adalah… validasi. Kita jadi bergantung pada validasi orang lain. Selfie 100 kali buat dapet satu foto yang “Instagram-worthy”. Edit wajah sampai nggak mirip diri sendiri. Cuma buat dapet like dan komen “cantik” atau “ganteng” dari orang-orang yang bahkan nggak peduli sama kita.
Kita menciptakan versi palsu dari hidup kita. Posting foto liburan mewah, padahal nabung setahun dan ngutang sana-sini. Posting quote motivasi, padahal sendirinya lagi broken. Posting couple goals, padahal hubungannya toxic. Semua demi… apa? Demi terlihat sempurna di mata orang lain?
(Menatap ponsel di tangannya)
Ini benda kecil… sebesar telapak tangan. Tapi dia mengontrol hidupku. Dia menentukan mood-ku. Kalau postingan aku banyak yang like, aku senang. Kalau sepi, aku insecure. Apa aku kehilangan jati diri? Atau memang sejak awal aku nggak pernah punya jati diri?
Yang lebih menyedihkan lagi, kita sudah lupa cara berinteraksi secara normal. Makan bareng keluarga, tapi masing-masing sibuk dengan ponselnya. Naik angkot, semua nunduk, scroll tanpa henti. Bahkan waktu upacara, yang harusnya khidmat menghormati bendera, malah sibuk foto buat story Instagram.
(Pause, kemudian berbicara lebih pelan)
Aku rindu… aku rindu ngobrol tatap muka tanpa distraksi. Aku rindu nulis surat, bukan cuma DM. Aku rindu ketawa beneran, bukan cuma kirim emoji “wkwkwk”. Aku rindu hidup di dunia nyata, bukan di timeline.
Tapi sayangnya… aku sudah terlalu dalam terperangkap. Dan yang paling menakutkan adalah… semua orang juga begitu. Kita semua tawanan. Tawanan layar kaca ini. Dan kita bahkan tidak sadar… atau mungkin sadar, tapi memilih untuk mengabaikannya.
(Menatap ponsel sekali lagi, lalu meletakkannya perlahan)
Mungkin sudah waktunya… untuk disconnect agar bisa reconnect. Dengan diri sendiri. Dengan orang-orang yang kita cintai. Dengan dunia nyata.
(Blackout)
1Tentukan Isu Sosial yang Akan Dikritisi
Pilih masalah sosial yang kamu pahami dan pedulikan. Bisa isu lingkungan, pendidikan, ekonomi, politik, teknologi, atau budaya.
Contoh isu: sampah plastik, bullying, kemacetan, korupsi, kecanduan gadget, body shaming.
2Lakukan Riset dan Kumpulkan Data
Cari informasi, data, fakta, dan contoh kasus yang mendukung kritik kamu. Gunakan sumber-sumber terpercaya seperti berita, jurnal, laporan penelitian.
3Tentukan Sudut Pandang
Putuskan dari perspektif apa kamu akan menyampaikan kritik. Apakah sebagai pengamat objektif (teks eksposisi) atau sebagai tokoh dengan pengalaman personal (monolog)?
4Susun Kerangka Tulisan
Untuk Teks Eksposisi: Tesis → Argumentasi 1, 2, 3 → Penegasan Ulang
Untuk Monolog: Pengenalan tokoh → Pemaparan masalah → Klimaks emosi → Refleksi/Harapan
5Kembangkan Menjadi Teks Lengkap
Tulis dengan bahasa yang sesuai. Untuk eksposisi, gunakan bahasa formal dan logis. Untuk monolog, gunakan bahasa yang ekspresif dan sesuai karakter tokoh.
6Berikan Solusi atau Harapan
Kritik yang baik bukan hanya mengeluh, tapi juga menawarkan solusi atau paling tidak memberikan harapan untuk perubahan.
7Revisi dan Edit
Periksa kembali tulisan kamu. Pastikan argumen kuat, bahasa tepat, dan pesan tersampaikan dengan jelas.
✅ Yang Harus Dilakukan:
- Berdasarkan fakta dan data yang akurat
- Menyampaikan dengan bahasa yang santun namun tegas
- Memberikan solusi atau alternatif
- Mempertimbangkan berbagai sudut pandang
- Fokus pada masalah, bukan menyerang pribadi
- Menggunakan contoh konkret yang relatable
❌ Yang Harus Dihindari:
- Menggunakan data atau informasi yang tidak valid
- Menyerang atau menghina pihak tertentu secara personal
- Hanya mengeluh tanpa memberikan solusi
- Menggunakan bahasa kasar atau provokatif
- Menyebarkan hoaks atau informasi yang menyesatkan
- Bersikap sok tahu atau menggurui
Nah, sekarang kamu sudah paham kan tentang kritik sosial dan bagaimana menyampaikannya melalui teks eksposisi maupun monolog?
Ingat ya, kritik sosial itu penting sebagai bentuk kepedulian kita terhadap kondisi masyarakat. Tapi yang lebih penting lagi adalah bagaimana cara kita menyampaikan kritik tersebut. Kritik yang baik bukan hanya menunjukkan masalah, tapi juga membawa harapan untuk perubahan yang lebih baik.
Teks eksposisi cocok digunakan kalau kamu ingin menyampaikan kritik secara objektif, logis, dan terstruktur dengan didukung data dan fakta. Sementara monolog lebih pas kalau kamu ingin mengekspresikan kritik secara emosional dan personal melalui sudut pandang tokoh tertentu.
Kedua cara ini sama-sama efektif, tergantung pada tujuan dan audiens kamu. Yang penting, sampaikan kritik dengan bijak, santun, dan bertanggung jawab. Karena kritik yang baik adalah kritik yang membangun, bukan yang menghancurkan.
Sekarang, coba deh kamu lihat sekitar. Ada masalah sosial apa yang mengganggu pikiran kamu? Yuk, tulis kritik sosial kamu sendiri dan jadilah bagian dari perubahan! 🌟


