A Koherensi & Kohesi
Coba baca dua kalimat ini: "Saya suka makan nasi goreng. Kucing peliharaan saya jatuh." Aneh kan? Nggak nyambung! Nah, itulah contoh teks yang tidak koheren. Teks yang baik harus punya keterkaitan logis antarkalimat dan antarparagraf.
🎯 Definisi:
Koherensi adalah kepaduan makna dalam teks. Teks koheren = semua kalimat saling mendukung dan membahas satu topik yang sama secara logis.
Kohesi adalah kepaduan bentuk (struktur) dalam teks. Teks kohesif = ada alat penghubung gramatikal (konjungsi, kata rujukan, dll) yang menyatukan kalimat.
Perbedaan Koherensi & Kohesi:
| Aspek | Koherensi | Kohesi |
|---|---|---|
| Fokus | Makna/Isi | Bentuk/Struktur |
| Cara Melihat | Logika hubungan ide | Kata penghubung |
| Alat | Keterkaitan topik | Konjungsi, pronomina, dll |
| Contoh | Semua kalimat bahas pendidikan | Ada kata "oleh karena itu", "ia", "tersebut" |
📖 Ilustrasi:
❌ Tidak Koheren & Tidak Kohesif:
"Saya suka belajar. Hujan turun. Mobil berwarna merah."
→ Tidak ada hubungan logis, tidak ada kata penghubung
✅ Koheren & Kohesif:
"Saya suka belajar matematika. Oleh karena itu, saya mengikuti les tambahan. Dengan demikian, nilai saya meningkat."
→ Ada hubungan logis, ada konjungsi & pronomina
B Konjungsi Antarkalimat
Konjungsi antarkalimat adalah kata penghubung yang menghubungkan satu kalimat dengan kalimat lain. Biasanya terletak di awal kalimat dan diikuti tanda koma.
Jenis-Jenis Konjungsi Antarkalimat:
1. Penambahan/Adisi
Menambahkan informasi lanjutan.
Konjungsi:
Selain itu, Di samping itu, Tambahan pula, Lagi pula, Selanjutnya
Contoh: "Dia pandai matematika. Selain itu, dia juga jago bahasa Inggris."
2. Pertentangan/Kontras
Menunjukkan perbedaan atau kebalikan.
Konjungsi:
Namun, Akan tetapi, Sebaliknya, Meskipun demikian, Walau begitu
Contoh: "Dia rajin belajar. Namun, nilainya tetap rendah."
3. Sebab-Akibat/Kausal
Menunjukkan hubungan sebab atau akibat.
Konjungsi:
Oleh karena itu, Oleh sebab itu, Akibatnya, Karena itu, Dengan demikian
Contoh: "Dia tidak belajar. Oleh karena itu, dia tidak lulus ujian."
4. Waktu/Temporal
Menunjukkan urutan waktu.
Konjungsi:
Kemudian, Setelah itu, Selanjutnya, Sesudah itu, Lalu
Contoh: "Dia makan siang. Kemudian, dia tidur siang."
5. Penegasan/Afirmasi
Menegaskan atau memperkuat pernyataan sebelumnya.
Konjungsi:
Bahkan, Malah(an), Apalagi, Lagipula
Contoh: "Dia malas belajar. Bahkan, dia tidak pernah masuk kelas."
6. Kesimpulan/Simpulan
Menarik kesimpulan dari kalimat sebelumnya.
Konjungsi:
Jadi, Dengan demikian, Oleh karena itu, Kesimpulannya
Contoh: "Semua bukti menunjuk padanya. Jadi, dia adalah pelakunya."
C Kata Rujukan (Reference)
Kata rujukan adalah kata yang mengacu pada kata/frasa lain yang sudah disebutkan sebelumnya. Ini membantu menghindari pengulangan dan membuat teks lebih kohesif.
Jenis Kata Rujukan:
1. Pronomina Persona (Kata Ganti Orang)
Tunggal:
saya, aku, ia, dia, -nya
Jamak:
kami, kita, mereka
Hormat:
Anda, Bapak, Ibu, beliau
Contoh: "Andi adalah siswa teladan. Dia selalu ranking satu."
→ "Dia" merujuk pada "Andi"
2. Pronomina Demonstratif (Kata Ganti Penunjuk)
Dekat:
ini, tersebut, berikut
Jauh:
itu, tadi
Contoh: "Pemerintah menaikkan harga BBM. Hal ini menuai protes."
→ "Hal ini" merujuk pada "menaikkan harga BBM"
3. Repetisi (Pengulangan)
Mengulang kata/frasa yang sama untuk penekanan atau kejelasan.
Contoh: "Pendidikan adalah kunci kemajuan. Pendidikan membuka peluang masa depan."
→ Kata "Pendidikan" diulang untuk penegasan
4. Sinonim (Kata Bersinonim)
Menggunakan kata lain yang maknanya sama/mirip.
Contoh: "Guru mengajar dengan sabar. Tenaga pendidik itu sangat dihormati."
→ "Tenaga pendidik" = sinonim "Guru"
5. Hiponim-Hipernim
Menggunakan kata yang lebih umum (hipernim) atau lebih khusus (hiponim).
Contoh: "Saya membeli apel dan jeruk. Buah-buahan itu sangat segar."
→ "Buah-buahan" (hipernim) merujuk pada "apel & jeruk" (hiponim)
D Hubungan Antarparagraf
Paragraf dalam teks juga harus saling terkait. Ada beberapa pola hubungan yang umum:
Pola Hubungan Antarparagraf:
1. Kronologis (Urutan Waktu)
Paragraf disusun berdasarkan urutan waktu kejadian.
Ciri:
Menggunakan penanda waktu: pertama, kedua, kemudian, setelah itu, akhirnya.
Contoh: Paragraf 1 (masa kecil) → Paragraf 2 (remaja) → Paragraf 3 (dewasa)
2. Kausal (Sebab-Akibat)
Paragraf kedua menjelaskan akibat dari paragraf pertama (atau sebaliknya).
Ciri:
Menggunakan: oleh karena itu, akibatnya, sebagai hasilnya.
Contoh: Paragraf 1 (hujan deras) → Paragraf 2 (banjir melanda)
3. Perbandingan/Pertentangan
Paragraf kedua membandingkan atau mempertentangkan dengan paragraf pertama.
Ciri:
Menggunakan: sebaliknya, berbeda dengan, namun, di sisi lain.
Contoh: Paragraf 1 (kelebihan kota) → Paragraf 2 (kekurangan kota)
4. Generalisasi-Spesifikasi
Paragraf pertama umum, paragraf berikutnya detail/contoh.
Ciri:
Menggunakan: misalnya, contohnya, seperti, khususnya.
Contoh: Paragraf 1 (manfaat olahraga secara umum) → Paragraf 2 (manfaat berenang khususnya)
E Contoh Analisis Hubungan
Mari Bedah Paragraf Ini!
PARAGRAF:
[1] Pendidikan karakter sangat penting bagi generasi muda. [2] Hal ini akan membentuk kepribadian yang baik. [3] Oleh karena itu, sekolah harus mengintegrasikan pendidikan karakter dalam kurikulum. [4] Dengan demikian, siswa tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga berakhlak mulia.
🔍 Analisis Hubungan Antarkalimat:
Kalimat [1] → [2]
Penghubung: "Hal ini" (pronomina demonstratif)
Rujukan: "Hal ini" merujuk pada "Pendidikan karakter sangat penting"
Hubungan: Perluasan/Penjelasan lebih lanjut
Kalimat [2] → [3]
Penghubung: "Oleh karena itu" (konjungsi antarkalimat)
Jenis: Konjungsi kausal (sebab-akibat)
Hubungan: Kesimpulan/Akibat dari pentingnya pendidikan karakter
Repetisi: "pendidikan karakter" diulang untuk kohesi
Kalimat [3] → [4]
Penghubung: "Dengan demikian" (konjungsi antarkalimat)
Jenis: Konjungsi kesimpulan
Hubungan: Hasil akhir yang diharapkan
KESIMPULAN ANALISIS:
Koherensi: ✅ Sangat koheren — semua kalimat membahas satu topik (pendidikan karakter)
Kohesi: ✅ Sangat kohesif — ada konjungsi & kata rujukan yang jelas
Alat Kohesi: 3 konjungsi antarkalimat + 1 repetisi + 2 pronomina
Pola Pengembangan: Umum → Detail → Kesimpulan (Deduktif)
F Cara Menganalisis Hubungan
Ikuti langkah sistematis ini untuk menganalisis koherensi dan kohesi teks:
Cek Topik Utama
Baca semua kalimat. Apakah semua kalimat membahas topik yang sama? Kalau iya = koheren.
Identifikasi Konjungsi
Cari kata penghubung di awal kalimat. Tentukan jenisnya: penambahan, pertentangan, sebab-akibat, dll.
Cari Kata Rujukan
Perhatikan pronomina (ia, dia, -nya, ini, itu). Tanya: "Kata ini merujuk pada apa/siapa?"
Identifikasi Repetisi & Sinonim
Ada kata yang diulang? Ada kata yang maknanya sama tapi beda tulisan?
Tentukan Pola Hubungan
Untuk antarparagraf, tentukan: kronologis, kausal, perbandingan, atau generalisasi-spesifikasi?
Simpulkan
Nyatakan apakah teks koheren (topik terkait) dan kohesif (ada alat penghubung).
Kesimpulan:
Memahami hubungan antarkalimat dan antarparagraf adalah kunci memahami teks dengan baik. Koherensi memastikan teks punya kesatuan makna, sementara kohesi memastikan teks punya kesatuan bentuk. Keduanya bekerja sama membuat teks mudah dipahami dan enak dibaca. Dalam soal TKA, fokus pada konjungsi antarkalimat dan kata rujukan—dua alat kohesi paling sering ditanyakan! 📚✨