close

Teks Hikayat | Bahasa Indonesia Kelas 10

Hai! Pernah nggak sih kamu dengar cerita tentang raja-raja sakti, putri cantik jelita, atau pahlawan dengan kekuatan supranatural? Nah, itu semua ada di Hikayat! Di kelas 10 ini, kita bakal belajar tentang teks hikayat, salah satu karya sastra Melayu klasik yang penuh dengan cerita menarik, nilai-nilai luhur, dan tentunya unsur-unsur magis yang bikin kita terpesona. Yuk, kita jelajahi dunia hikayat bersama-sama!

A Apa Itu Hikayat?

Hikayat adalah salah satu bentuk prosa lama atau karya sastra lama yang berasal dari kesusastraan Melayu. Kata “hikayat” sendiri berasal dari bahasa Arab “hikayah” yang artinya cerita atau kisah.

Hikayat biasanya menceritakan tentang kehidupan istana, kepahlawanan, petualangan, atau kisah cinta dengan tokoh-tokoh yang memiliki kesaktian atau keistimewaan luar biasa. Yang menarik, hikayat ini dulunya diceritakan secara lisan dari generasi ke generasi sebelum akhirnya dituliskan.

Fakta Menarik tentang Hikayat:

Hikayat sangat populer di lingkungan istana pada masa kerajaan Melayu. Cerita-cerita hikayat sering dibacakan untuk menghibur raja dan keluarga istana. Selain itu, hikayat juga berfungsi sebagai media pendidikan untuk menyampaikan nilai-nilai moral dan budi pekerti kepada masyarakat.

B Ciri-Ciri Hikayat

Nah, gimana sih cara kita tahu kalau sebuah cerita itu hikayat atau bukan? Gampang! Perhatiin ciri-ciri berikut:

1Anonim (Pengarang Tidak Diketahui)

Hikayat biasanya tidak mencantumkan nama pengarang. Ini karena hikayat berkembang secara lisan dan diturunkan dari generasi ke generasi, jadi nggak jelas siapa yang pertama kali menciptakannya.

2Istanasentris

Cerita dalam hikayat umumnya berpusat pada kehidupan istana, dengan tokoh utama biasanya adalah raja, pangeran, putri, atau keluarga kerajaan.

3Mengandung Unsur Kemustahilan

Hikayat penuh dengan hal-hal yang tidak masuk akal atau supranatural, seperti manusia yang bisa terbang, kesaktian luar biasa, binatang yang bisa berbicara, atau senjata pusaka yang sakti.

4Alur Cerita Maju (Progresif)

Cerita hikayat mengalir dari awal ke akhir secara berurutan, dari pengenalan tokoh hingga penyelesaian masalah.

5Bahasa Melayu Klasik

Hikayat menggunakan bahasa Melayu kuno yang khas, dengan kata-kata arkais (kuno) yang sekarang sudah jarang digunakan.

6Bersifat Statis

Watak tokoh dalam hikayat cenderung datar dan tidak berkembang. Tokoh jahat akan tetap jahat, tokoh baik akan tetap baik dari awal hingga akhir cerita.

7Mengandung Nilai-Nilai

Hikayat selalu memuat nilai-nilai moral, agama, dan pendidikan yang bertujuan untuk mendidik pembaca atau pendengarnya.

C Struktur Hikayat

Seperti cerita pada umumnya, hikayat juga punya struktur yang jelas. Yuk kita bahas satu per satu:

1Orientasi (Pengenalan)

Bagian awal yang memperkenalkan tokoh, latar tempat, dan latar waktu. Di bagian ini, pembaca diajak mengenal siapa saja tokoh dalam cerita dan di mana serta kapan cerita berlangsung.

Contoh: “Alkisah, tersebutlah sebuah kerajaan bernama Antah Berantah yang dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana bernama Sri Baginda…”

2Komplikasi (Munculnya Masalah)

Bagian yang menceritakan konflik atau masalah yang dihadapi oleh tokoh. Inilah yang membuat cerita menjadi menarik dan membuat pembaca penasaran.

Contoh: “Suatu hari, kerajaan diserang oleh raja dari negeri seberang yang hendak merampas tahta dan menculik sang putri…”

3Resolusi (Penyelesaian)

Bagian yang menunjukkan penyelesaian masalah. Di sini, konflik yang muncul di bagian komplikasi akan menemukan jalan keluarnya.

Contoh: “Maka sang pangeran pun bertempur melawan raja jahat tersebut dengan menggunakan ilmu kesaktiannya. Setelah pertempuran sengit, akhirnya pangeran berhasil mengalahkan musuh dan menyelamatkan putri…”

4Koda (Penutup)

Bagian akhir cerita yang biasanya berisi kesimpulan atau amanat. Kadang juga berisi nasib tokoh setelah konflik selesai.

Contoh: “Maka sang pangeran pun menikahi putri itu dan hidup bahagia selamanya. Demikianlah hikayat ini menjadi pelajaran bahwa kebaikan akan selalu mengalahkan kejahatan.”

D Unsur-Unsur Intrinsik Hikayat

Seperti karya sastra pada umumnya, hikayat juga memiliki unsur intrinsik. Ini adalah unsur-unsur yang membangun cerita dari dalam:

1. Tema

Gagasan pokok atau ide sentral dalam cerita. Tema hikayat biasanya berkisar pada kepahlawanan, cinta kasih, kesetiaan, atau perjuangan kebaikan melawan kejahatan.

2. Tokoh dan Penokohan

Tokoh adalah pelaku dalam cerita, sedangkan penokohan adalah cara pengarang menggambarkan watak tokoh.

  • Tokoh Protagonis: Tokoh utama yang baik (pahlawan, pangeran, putri)
  • Tokoh Antagonis: Tokoh yang berlawanan dengan protagonis (raja jahat, raksasa, penyihir)
  • Tokoh Tritagonis: Tokoh pendukung (punggakawan, penasihat, pembantu)

3. Alur/Plot

Rangkaian peristiwa yang membentuk cerita. Hikayat umumnya menggunakan alur maju (kronologis), dari awal sampai akhir secara berurutan.

4. Latar (Setting)

Tempat, waktu, dan suasana di mana cerita berlangsung.

  • Latar Tempat: Istana, kerajaan, hutan belantara, lautan
  • Latar Waktu: Zaman dahulu kala, masa kerajaan
  • Latar Suasana: Romantis, menegangkan, magis

5. Sudut Pandang

Posisi pengarang dalam menceritakan kisah. Hikayat biasanya menggunakan sudut pandang orang ketiga (“ia”, “dia”, “mereka”) dengan narator yang serba tahu.

6. Amanat

Pesan moral atau nilai-nilai yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Ini adalah pelajaran yang bisa kita ambil dari cerita.

7. Gaya Bahasa

Cara pengarang menggunakan bahasa untuk menyampaikan cerita. Hikayat kaya akan majas dan gaya bahasa khas Melayu klasik.

E Karakteristik Bahasa Hikayat

Bahasa yang digunakan dalam hikayat punya kekhasan tersendiri. Ini yang membuat hikayat terasa klasik dan berbeda dari cerita modern:

1. Kalimat Klise

Kalimat yang diulang-ulang dan sudah menjadi ciri khas hikayat.

Contoh:

  • “Hatta beberapa lamanya…”
  • “Alkisah tersebutlah…”
  • “Maka tersebutlah pula kisah…”
  • “Syahdan…”
  • “Arakian…”

2. Kata Arkais (Kuno)

Kata-kata yang sudah tidak digunakan lagi dalam bahasa Indonesia modern.

Contoh:

  • Titah = perintah
  • Syahdan = adapun
  • Hatta = setelah itu
  • Tatkala = ketika
  • Mangkat = meninggal (untuk raja)
  • Anugerah = hadiah/pemberian
  • Paduka = sebutan untuk raja

3. Majas/Gaya Bahasa

Hikayat kaya akan penggunaan majas untuk memperindah cerita.

  • Hiperbola: “Kecantikannya tiada tara di seluruh negeri”
  • Personifikasi: “Angin berbisik lembut”
  • Simile: “Wajahnya bagai bulan purnama”
  • Metafora: “Sang raja adalah matahari bagi rakyatnya”

4. Konjungsi Temporal

Kata penghubung yang menunjukkan urutan waktu.

Contoh: hatta, kalakian, setelah itu, maka, kemudian

F Jenis-Jenis Hikayat

Hikayat punya beberapa jenis berdasarkan isi dan sumber ceritanya:

1. Hikayat Raja-Raja

Menceritakan tentang kehidupan, kebesaran, dan silsilah raja-raja.

Contoh: Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Aceh, Sejarah Melayu

2. Hikayat Pahlawan

Mengisahkan kepahlawanan seseorang dengan kesaktian luar biasa.

Contoh: Hikayat Hang Tuah, Hikayat Si Pitung

3. Hikayat Binatang

Cerita yang tokoh utamanya adalah binatang dengan sifat-sifat manusia.

Contoh: Hikayat Pelanduk Jenaka, Hikayat Si Kancil

4. Hikayat Percintaan

Menceritakan kisah cinta antara dua tokoh.

Contoh: Hikayat Panji Semirang, Hikayat Bidasari

5. Hikayat Petualangan

Berisi petualangan tokoh dalam menjalani misi atau pencarian sesuatu.

Contoh: Hikayat Malim Deman, Hikayat Indraputra

G Nilai-Nilai dalam Hikayat

Hikayat bukan hanya sekadar cerita menghibur, tapi juga sarat dengan nilai-nilai kehidupan:

1. Nilai Moral

Mengajarkan tentang kebaikan, kejujuran, kesetiaan, dan menghindari perbuatan jahat.

Contoh: Tokoh yang jujur akan mendapat berkah, sementara yang sombong akan jatuh.

2. Nilai Agama

Mengandung ajaran-ajaran keagamaan, terutama Islam karena hikayat berkembang di masa penyebaran Islam di Nusantara.

Contoh: Tokoh yang selalu berdoa dan berserah kepada Tuhan.

3. Nilai Sosial

Mengajarkan tentang hubungan antarmanusia, tolong-menolong, dan hidup bermasyarakat.

Contoh: Raja yang peduli pada rakyatnya, rakyat yang setia pada raja.

4. Nilai Pendidikan

Memberikan pelajaran tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.

Contoh: Tokoh yang cerdik dan bijaksana selalu bisa menyelesaikan masalah.

5. Nilai Budaya

Menggambarkan adat istiadat, tradisi, dan kebudayaan Melayu.

Contoh: Upacara pernikahan di istana, tata cara bertamu, sopan santun.

H Contoh Hikayat #1: Hikayat Bunga Kemuning

Hikayat Bunga Kemuning

[ORIENTASI]

Alkisah, tersebutlah sebuah kerajaan yang makmur dan gemah ripah loh jinawi. Di kerajaan itu, terdapat seorang raja yang sangat sakti mandraguna bernama Alam Syah. Raja Alam Syah dikaruniai seorang putri yang amat cantik jelita, parasnya bagai rembulan di tengah malam, kulitnya seputih susu, rambutnya hitam legam sepanjang pinggang. Putri itu diberi nama Putri Kuning.

Putri Kuning tidak hanya cantik rupawan, tetapi juga memiliki akal budi yang tinggi dan budi pekerti yang luhur. Setiap hari, Putri Kuning gemar berjalan-jalan di taman istana yang penuh dengan bunga-bunga kemuning yang harum semerbak. Itulah sebabnya ia juga dikenal dengan nama Putri Kemuning.

[KOMPLIKASI]

Hata berapa lamanya, tersebarlah kabar tentang kecantikan Putri Kuning ke seluruh penjuru negeri. Banyak raja dan pangeran dari berbagai kerajaan datang melamar sang putri. Namun, tidak satu pun yang berkenan di hati Putri Kuning, sebab ia telah berjanji dalam hati bahwa ia hanya akan menikah dengan lelaki yang memiliki hati sebaik dirinya.

Suatu hari, datanglah seorang pangeran dari negeri seberang lautan yang bernama Pangeran Indra Bangsawan. Pangeran itu tampan rupawan, gagah perkasa, dan memiliki ilmu kesaktian yang tinggi. Berbeda dengan pelamar-pelamar sebelumnya yang langsung datang ke istana dengan kemegahan, Pangeran Indra menyamar sebagai pemuda biasa.

Tatkala Putri Kuning sedang berjalan di taman, ia bertemu dengan pemuda itu. Tanpa mengetahui bahwa ia adalah seorang pangeran, Putri Kuning berbincang-bincang dengan ramah. Hati keduanya pun saling tertaut. Setiap hari mereka bertemu di taman kemuning, berbincang tentang berbagai hal, dari kebijaksanaan hidup hingga mimpi-mimpi mereka.

Syahdan, pada suatu hari yang naas, datanglah seorang raksasa yang amat besar dan menyeramkan bernama Batara Lengis. Raksasa itu mendengar tentang kecantikan Putri Kuning dan ingin menjadikannya permaisuri. Dengan kekuatan saktinya, Batara Lengis menyerang kerajaan dan menculik Putri Kuning ke guanya di puncak gunung.

Raja Alam Syah sangat berduka. Ia mengumumkan bahwa siapa saja yang berhasil menyelamatkan putrinya akan dinikahkan dengannya dan mendapat setengah dari kerajaan. Banyak kesatria yang mencoba, namun tidak ada yang berhasil mengalahkan Batara Lengis.

[RESOLUSI]

Mendengar kabar tersebut, Pangeran Indra yang telah jatuh cinta kepada Putri Kuning segera bertindak. Ia melepaskan penyamarannya dan menunjukkan jati dirinya sebagai pangeran dari negeri seberang yang memiliki kesaktian tinggi.

Dengan menunggang kuda sembrani yang dapat terbang di angkasa, Pangeran Indra menuju ke gua Batara Lengis. Maka terjadilah pertempuran yang amat dahsyat antara Pangeran Indra dan Batara Lengis. Gunung gempa, langit bergemuruh, petir menyambar-nyambar. Pertempuran itu berlangsung tujuh hari tujuh malam tanpa henti.

Berkat kesaktian, keberanian, dan tekadnya yang kuat karena cinta, akhirnya Pangeran Indra berhasil mengalahkan Batara Lengis. Raksasa itu lenyap menjadi abu yang diterbangkan angin. Pangeran Indra pun segera menyelamatkan Putri Kuning dan membawanya kembali ke istana.

[KODA]

Raja Alam Syah sangat bersukacita melihat putrinya kembali dengan selamat. Sesuai dengan janjinya, ia pun menikahkan Putri Kuning dengan Pangeran Indra. Pernikahan itu dirayakan dengan pesta yang meriah selama empat puluh hari empat puluh malam.

Putri Kuning dan Pangeran Indra hidup bahagia dan memiliki banyak putra-putri yang kelak menjadi raja-raja yang bijaksana. Taman kemuning di istana terus mekar sepanjang masa sebagai lambang cinta sejati mereka.

Demikianlah hikayat ini mengajarkan kepada kita bahwa cinta sejati tidak memandang pangkat dan kedudukan, dan kebaikan serta keberanian akan selalu mengalahkan kejahatan. Tamatlah sudah hikayat Bunga Kemuning.

I Contoh Hikayat #2: Hikayat Indera Bangsawan

Hikayat Indera Bangsawan (Ringkasan)

[ORIENTASI]

Pada zaman dahulu kala, di sebuah negeri yang makmur dan subur, hiduplah seorang raja yang sangat bijaksana bernama Maharaja Indera Dewa. Baginda mempunyai seorang permaisuri yang amat cantik dan baik hati. Mereka dikaruniai seorang putra mahkota yang tampan, gagah berani, dan cerdas bernama Indera Bangsawan.

Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Raja Indera Dewa jatuh cinta kepada seorang perempuan jelita dari negeri lain dan menikahinya sebagai permaisuri muda. Permaisuri muda ini berasal dari keluarga golongan jin dan memiliki ilmu sihir yang tinggi. Ia sangat iri dan dengki kepada permaisuri tua dan putra mahkota.

[KOMPLIKASI]

Syahdan, permaisuri muda yang jahat itu merencanakan tipu muslihat untuk menyingkirkan Indera Bangsawan. Dengan ilmu sihirnya, ia membuat sang raja sakit parah. Kemudian ia berkata kepada raja bahwa satu-satunya obat yang dapat menyembuhkan penyakit baginda adalah hati Indera Bangsawan.

Raja yang sedang sakit dan tidak sadarkan diri pun percaya akan kata-kata permaisuri mudanya. Maka ia pun memerintahkan agar Indera Bangsawan dibunuh dan hatinya diambil. Namun, permaisuri tua yang bijaksana mengetahui rencana jahat ini. Dengan bantuan perdana menteri yang setia, Indera Bangsawan diselamatkan dan diungsikan ke hutan.

Di tengah hutan yang lebat, Indera Bangsawan bertemu dengan seorang pertapa sakti yang mengajarkannya berbagai ilmu kesaktian, ilmu kebatinan, dan ilmu perang. Tahun demi tahun berlalu, Indera Bangsawan tumbuh menjadi seorang pemuda yang sangat sakti mandraguna dan bijaksana.

[RESOLUSI]

Hatta beberapa lamanya, negeri raja diserang oleh raja dari negeri seberang yang amat kuat dan mempunyai pasukan yang besar. Raja Indera Dewa yang sudah tua dan lemah tidak kuasa melawan. Negeri dalam bahaya besar.

Mendengar berita tersebut, Indera Bangsawan yang telah menjadi kesatria sakti kembali ke negeri untuk menyelamatkan ayahanda dan negerinya. Dengan kesaktian yang telah dipelajarinya, ia bertempur melawan raja musuh dan pasukannya. Pertempuran berlangsung dengan sengit, namun akhirnya Indera Bangsawan berhasil mengalahkan musuh dan menyelamatkan kerajaan.

Raja Indera Dewa menyadari kesalahannya yang telah mempercayai permaisuri muda yang jahat. Permaisuri jahat itu pun diusir dari kerajaan. Raja meminta maaf kepada Indera Bangsawan dan permaisuri tua, lalu mengangkat kembali Indera Bangsawan sebagai putra mahkota.

[KODA]

Setelah raja mangkat, Indera Bangsawan naik tahta menjadi raja. Ia memerintah dengan adil dan bijaksana, negeri pun menjadi semakin makmur dan rakyat hidup dengan tenteram. Demikianlah hikayat mengajarkan bahwa kejahatan tidak akan pernah menang melawan kebaikan, dan kesabaran serta kebijaksanaan akan membuahkan hasil yang baik.

J Cara Menganalisis Hikayat

Nah, setelah membaca hikayat, kamu perlu tahu gimana cara menganalisisnya. Ini penting untuk memahami lebih dalam tentang isi dan makna hikayat tersebut:

1Identifikasi Struktur

Tentukan bagian-bagian hikayat:

  • Mana bagian orientasi (pengenalan)?
  • Mana bagian komplikasi (konflik)?
  • Mana bagian resolusi (penyelesaian)?
  • Mana bagian koda (penutup)?

2Analisis Unsur Intrinsik

  • Tema: Apa ide pokok cerita?
  • Tokoh: Siapa saja tokohnya? Bagaimana wataknya?
  • Alur: Bagaimana urutan peristiwa?
  • Latar: Di mana dan kapan cerita berlangsung?
  • Amanat: Pelajaran apa yang bisa diambil?

3Cari Ciri Khas Hikayat

  • Apakah ada unsur kemustahilan?
  • Apakah ceritanya istanasentris?
  • Kata-kata arkais apa saja yang digunakan?
  • Kalimat klise apa yang muncul?

4Temukan Nilai-Nilai

Identifikasi nilai moral, agama, sosial, pendidikan, dan budaya yang terkandung dalam hikayat.

5Bandingkan dengan Kehidupan Modern

Pikirkan relevansi hikayat dengan kehidupan sekarang. Nilai-nilai apa yang masih relevan? Apa yang berbeda?

K Perbedaan Hikayat dengan Cerpen Modern

Agar lebih paham, yuk kita bandingkan hikayat dengan cerpen (cerita pendek) yang kamu kenal sekarang:

Aspek Hikayat Cerpen Modern
Pengarang Anonim (tidak diketahui) Diketahui
Tokoh Raja, pangeran, putri (istanasentris) Orang biasa
Watak Tokoh Statis (tidak berkembang) Dinamis (berkembang)
Alur Selalu maju Bisa maju, mundur, atau campuran
Latar Istana, kerajaan (zaman dulu) Beragam (masa kini)
Bahasa Melayu klasik, arkais Indonesia modern
Kemustahilan Banyak unsur supranatural Lebih realistis
Tujuan Mendidik dan menghibur Menghibur dan mencerminkan realitas
L Tips Memahami Hikayat

✅ Yang Perlu Kamu Lakukan:

  • Pahami dulu konteks sejarah dan budaya Melayu klasik
  • Catat kata-kata arkais yang tidak kamu pahami dan cari artinya
  • Jangan terlalu fokus pada logika modern, terima unsur kemustahilan sebagai bagian dari genre
  • Fokus pada nilai-nilai dan pelajaran yang disampaikan
  • Bayangkan dirimu sedang mendengarkan dongeng dari nenek moyang
  • Nikmati keindahan bahasa dan gaya berceritanya

❌ Yang Perlu Dihindari:

  • Membandingkan hikayat dengan standar cerita modern terlalu ketat
  • Melewatkan bagian pengenalan yang panjang (ini penting untuk konteks)
  • Mengabaikan makna simbolis di balik cerita
  • Menganggap hikayat sebagai sejarah faktual (ini fiksi dengan nilai edukatif)
M Penutup

Nah, sekarang kamu sudah paham kan tentang hikayat? Hikayat adalah warisan budaya yang sangat berharga dari nenek moyang kita. Meski bahasanya kuno dan ceritanya penuh dengan hal-hal yang tidak masuk akal, hikayat punya nilai-nilai luhur yang tetap relevan sampai sekarang.

Dari hikayat, kita belajar tentang keberanian, kejujuran, kesetiaan, kebijaksanaan, dan pentingnya melawan kejahatan. Kita juga bisa melihat bagaimana nenek moyang kita dulu menyampaikan pelajaran hidup melalui cerita-cerita yang menarik.

Yang paling menarik dari hikayat adalah kebebasan imajinasinya. Di dalam hikayat, apa saja bisa terjadi! Manusia bisa terbang, binatang bisa bicara, senjata punya kesaktian, dan cinta bisa mengalahkan segalanya. Ini menunjukkan bahwa nenek moyang kita punya imajinasi yang luar biasa kreatif.

Meski sekarang kita hidup di era modern dengan teknologi canggih, hikayat tetap punya tempat spesial. Banyak film, novel, dan komik modern yang terinspirasi dari hikayat. Bahkan, beberapa game juga mengadaptasi cerita-cerita hikayat klasik!

Jadi, jangan anggap hikayat sebagai sesuatu yang kuno dan membosankan ya. Lihatlah hikayat sebagai jendela untuk memahami budaya dan nilai-nilai nenek moyang kita. Siapa tahu, suatu hari nanti kamu bisa menciptakan karya-karya modern yang terinspirasi dari hikayat! 📖✨

Tamatlah sudah pembahasan kita tentang hikayat. Semoga bermanfaat dan menambah kecintaan kamu terhadap karya sastra Indonesia!

Back to top button