Pengembangan Diri

Depresi dan Kurang Iman

Pernah nggak sih kamu dituduh tidak punya iman karena curhatnya sama manusia? Mungkin kamu punya banyak masalah hingga membuat kamu stress bahkan depresi. Sayangnya banyak masyarakat yang masih beranggapan jika depresi sama seperti dengan kurang iman. Depresi sendiri adalah gangguan suasana hati atau mood yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan rasa tidak peduli. Semua orang pasti pernah merasa sedih atau murung. Seseorang dinyatakan mengalami depresi jika sudah 2 minggu merasa sedih, putus harapan, atau tidak berharga.

Baca Juga: Kenapa Orang Bisa Mengalami Depresi?

Emang apa sih peran agama untuk kesehan mental? Menurut penelitian nyatanya orang yang lebih religius memiliki keadaan psikologis yang baik dibandingan orang yang tingkat religiusitasnya rendah. Orang yang lebih religius juga punya lebih sedikit gejala depresi. Tapi stigma di komunitas beragama menyebutkan bahwa agama bisa memperburuk kesehatan mental seseorang. Masih ada komunitas beragama yang melihat depresi sebelah mata, mereka melihat orang yang depresi itu karena berdosa atau diganggu setan. Nah dari sini muncullah self-stigma, apa sih self-stigma itu? Yaitu proses seseorang menyetujui stigma hingga dia mengaplikasikannya ke diri sendiri.

Baca Juga: 5 Ciri Seseorang Sedang Mengalami Depresi

Orang yang beragama itu punya level self-stigma yang tinggi dibandingkan populasi umum. Efeknya adalah orang yang punya self-stigma tinggi tidak mau mencari bantuan profesional kalo berbicara mengenai mental health. Ini akan jadi masalah, ketika orang yang mengalami depresi itu membutuhkan dukungn sosial dari orang sekitar malah jadinya orang yang memiliki stigma akan mendiskriminasikan orang yang deperesi.

Seseorang mengalami gejala depresi atau depresi bukan karena lemah iman, seperti yang banyak masyarakat tudingkan. Namun justru karena lemahnya dukungan sosial, yang malah menganggap orang yang depresi sedang dalam keadaan sakit jiwa, atau menandakan orang yang kurang iman bahkan kurang bertakwa dan kurang gigih.

Teruntuk masyarakat yang beranggapan jika depresi adalah kurang iman, kita bisa mengibaratkan seperti ini. Jika kita sakit pasti kita pergi ke dokter, dan diberi obat . Yang menyembuhkan siapa? Tuhan pastinya. Obat dan dokter hanyalah perantara. Ya sama seperti depresi, psikolog atau orang sekitar adalah perantara. Mereka penderita depresi tidak bisa hanya berdoa saja untuk kesembuhannya tanpa adanya suppot system dari orang sekitar. Jika berdoa saja bisa menyembuhkan tanpa dibarengi dengan usaha, tidak ada gunanya peran dokter di dunia ini.

Ungkapan masyarakat awam bahwa kalau mau pulih dari gangguan jiwa, khususnya gangguan depresi “yang bisa menyembuhkan dirimu adalah dirimu sendiri!” Itu tidak benar. Gangguan jiwa apapun, terlebih lagi gangguan depresi tidak bisa menunggu munculnya kemauan untuk pulih tanpa dibawa berobat dulu ke psikiater atau konsultasi ke psikolog. Justru dukungan pengobatan dari psikiater dapat membantu menyeimbangkan kimia di otak sehingga moodnya akan meningkat dan konsultasi psikoterapi jauh lebih mungkin dipahami oleh orang yang mengalami gangguan depresi.

Setelah itu barulah bisa diharapkan muncul kemauan untuk pulih. Proses pemulihan tidak bisa hanya mengandalkan dirinya sendiri. Sama dengan orang yang mengalami penyakit berat apapun, di saat itulah ia sangat butuh dukungan sosial dari keluarga dan masyarakat yang membantunya untuk bisa kembali beraktifitas seperti dulu. Karena itu bagi masyarakat awam, terlebih lagi para tokoh agama dan sesama anggota komunitas keagamaan, mari kita membangun kepedulian dan kemurahan hati untuk mendukung orang yang sedang mengalami gangguan jiwa seperti gangguan depresi dengan menghapus stigma kurang iman.

Kamu tidak harus memilih antara Tuhan dan mental health profesional. Karena mental health adalah perantara Tuhan memberikan kesembuhan kepada kamu, tanpa kamu melupakan proses usaha dan berdoa. Pada intinya adalah jangan menjudge orang penyintas depresi dan mental illness lainnya. Karena kita nggak tau seberapa survive mereka dalam menjalani hidup.

Back to top button
error: